Friday, October 17, 2008

Tulus

Tak kusangka, laki-laki itu masih setia pada perasaannya. Entah berapa banyak panas dan hujan yang mencoba menghapus jejak perempuan aries itu di hatinya, tapi ia tetap mendekap erat wajah itu. “Belum ada yang pas...” itu yang dikatakannya padaku tadi di telepon genggam.

Walaupun ada sudut suram pada perempuan itu yang sudah ada sebelum ia mengenalnya, tapi ia bersedia menerima segala kekurangannya. Begitu tulus cinta itu rupanya, sehingga ia belum bisa melupakan perempuan terakhir yang pernah singgah di hatinya. Sampai ajal menjemput, ia tetap mendampinginya, setia di sampingnya sampai ke tempat bermukim terakhir...

“Bang, I’m proud of you... Terimakasih telah mendampingi perempuan kedua yang sangat kusayangi itu selama ia tinggal di ibukota yang penat... Semoga aku bisa bersanding dengan lelaki yang memiliki cinta sepertimu...”

*rasa sedih dan gundah yang menggelegak di satu sore*

4 comments:

didut said...

semoga kau menemukan rasa yg tulus juga tet :D

Gun said...

kalo tulusnya dari 1 pihak ya ndak jalan2 doms ah.

*ngawur akibat insomnia*

Anonymous said...

tiap hal/kisah/cerita/cita yang terlewat dan teralami akan segera menjadi kenangan; menjadi masa lalu. tiap orang punya cara sendiri memberi perlakukan pada, dan mengingat kenangan itu. meski tak hanya yang melulu hal/kisah/cerita berkesan. ada orang bilang, hanya dengan mengingat masa lalu, masa kini dan masa yang mendatang bisa ditempuh dalam kejelian (peng)harapan..

dilla said...

tidak ada yang lebih indah dari cinta yang tulus, cinta yang tak menuntut apa-apa, cuma cinta.